Padang (UNAND) – Di tengah ribuan toga yang memenuhi Auditorium ӰԭӰ (UNAND) pada Wisuda II tahun 2026, ada satu suara yang membuat suasana mendadak hening. Bukan karena pidato yang formal, melainkan karena kisah sederhana tentang perjuangan hidup yang terasa begitu dekat bagi banyak orang.
Suara itu datang dari Rahmi Yatul Fahmi, wisudawan terbaik dari Fakultas Peternakan yang dipercaya mewakili lulusan menyampaikan sambutan pada Sabtu (9/5). Dengan nada tenang, Rahmi tidak berbicara tentang gelar atau kebanggaan semata. Ia memilih menceritakan perjalanan panjang seorang anak kampung yang menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk bertahan dan mengubah hidup.
Berasal dari Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Rahmi menempuh pendidikan di UNAND melalui bantuan program KIP Kuliah. Jarak ratusan kilometer dari kampung halaman tak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Di balik perjalanan kuliahnya, ada keterbatasan ekonomi, kehilangan orang tua, hingga perjuangan menyelesaikan pendidikan tanpa sosok ayah dan ibu di sampingnya.
Namun Rahmi memilih tumbuh, bukan menyerah. Selama menempuh studi di Fakultas Peternakan, ia aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kompetisi tingkat nasional. Empat penghargaan nasional berhasil ia raih. Ia juga menamatkan studi dengan IPK 3,8 dalam waktu 3 tahun 7 bulan.
Meski demikian, bagi Rahmi, keberhasilan tidak selalu diukur dari angka. “Keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai. Tapi tentang siapa yang tetap bertahan dalam proses yang tidak mudah,” ujarnya di hadapan para wisudawan.
Momen paling menyentuh terjadi ketika Rahmi berbicara tentang kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Auditorium mendadak sunyi saat ia menyampaikan bahwa tidak ada lagi sosok ayah dan ibu yang menyaksikan langsung wisudanya dari kursi tamu undangan.
Meski begitu, Rahmi percaya perjuangannya tetap sampai kepada mereka. Di balik suasana haru itu, Rahmi justru menutup pidatonya dengan cara yang tidak biasa. Ia menyisipkan dua pantun ringan agar para wisudawan dan tamu undangan kembali tersenyum setelah mengikuti prosesi wisuda yang panjang.
Pantun pertamanya langsung disambut gelak tawa para wisudawan karena terasa begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa. Namun pantun berikutnya justru menjadi kejutan yang mengubah suasana auditorium.
Dengan nada santai, Rahmi melontarkan pantun kepada Rektor Efa Yonnedi tentang harapannya melanjutkan pendidikan magister.
Tak disangka, pantun sederhana itu langsung mendapat respons hangat. Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph. D bahkan menawarkan Rahmi untuk bergabung sebagai asisten riset di Pengelolaan Sumber Daya Alam Sekolah Pascasarjana.
Bagi banyak orang, wisuda mungkin menjadi akhir perjalanan kuliah. Namun bagi Rahmi, hari itu justru menjadi awal dari harapan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik

