Pukul 05:44 WIB, di sebuah sudut di Nanggalo, waktu seolah berhenti sejenak. Dalam apa yang sering saya sebut secara seloroh sebagai Nanggalo State Time (NST), saya berdiri di halaman rumah dengan sebuah gawai sederhana—yang sering kita labeli "HP C1na"—mengarahkan lensa ke ufuk timur. Di sana, di ketinggian 53°49', seiris cahaya melengkung indah di penghujung fajar. Bagi mata awam, itu mungkin hanya "bulan sabit". Namun, bagi nalar yang terbiasa membaca data, lengkungan itu adalah sebuah pesan penting tentang keteraturan alam semesta (ܲԲԲٳܱ) yang sering kali kita salah pahami.
Fenomena yang saya potret pagi ini, 12 Mei 2026 atau 24 Dzulkaidah 1447, adalah apa yang dalam istilah teknis astronomi disebut sebagai waning crescent, atau dalam bahasa lokal yang lebih estetik: Sabit Jirus. Ia adalah sabit tua yang sedang menipis, bersiap untuk "mati" (konjungsi) sebelum nantinya lahir kembali sebagai sabit muda.
Etimologi Hilal: Antara Teriakan dan Kepastian
Masalah muncul ketika masyarakat kita cenderung memukul rata semua bulan sabit dengan sebutan "Hilal". Padahal, secara etimologi dan syariat, ada perbedaan mendasar yang sangat kontras. Kata Hilal sendiri berasal dari akar kata yang berarti "teriakan".
Mengapa demikian? Karena pada masa silam, penentuan awal bulan adalah sebuah perjuangan visual yang luar biasa sulit. Hilal adalah "bayi" bulan (Day 1 hingga Day 3) yang nampak sangat tipis, sangat rendah di ufuk Barat, dan hanya muncul dalam waktu singkat sesaat setelah matahari terbenam. Saking sulitnya dideteksi, orang yang pertama kali berhasil melihatnya akan berteriak keras untuk memberitahu yang lain. Teriakan itulah yang menjadi penanda masuknya waktu ibadah.
Sebaliknya, apa yang saya lihat di langit Nanggalo pagi tadi bukanlah objek yang harus "diteriakkan". Dengan ketinggian di atas 50 derajat, ia terpampang nyata. Namun, posisinya bukan di Barat (tempat terbenam), melainkan di Timur (tempat terbit). Inilah Sabit Jirus, sang "sepuh" yang muncul di akhir bulan (Day 22-29). Ia adalah penutup, bukan pembuka. Jika Hilal adalah pengumuman tentang masa depan (sabit muda), maka Sabit Jirus adalah refleksi tentang masa lalu (bulan yang akan berakhir).
Sinkronisasi Data: "HP C1na" vs Model Hisab
Hal yang paling menarik dari pengamatan pagi ini bukan hanya pada objeknya, melainkan pada akurasinya. Saya menyandingkan hasil foto dari kamera ponsel saya dengan model simulasi astronomi (Hisab) melalui aplikasi Stellarium. Hasilnya? Identik. Lengkungan sabit yang tertangkap lensa ponsel saya sama persis dengan koordinat dan bentuk yang diprediksi oleh perhitungan matematika astronomi. Di sini, saya ingin menekankan sebuah poin penting bagi publik: kebenaran ilmiah tidak selalu membutuhkan instrumen miliaran rupiah. Di tangan orang yang memahami metode dan data, sebuah "HP C1na" sudah cukup untuk memverifikasi bahwa alam semesta ini bekerja layaknya mesin jam yang sangat presisi.
Kepastian ini membuktikan bahwa posisi benda langit bukanlah tebak-tebakan atau masalah "perasaan" subjektif. Jika model hisab mengatakan bulan berada di ketinggian sekian derajat pada jam sekian, dan observasi fisik membuktikannya, maka tidak ada ruang bagi perdebatan kusir yang mengabaikan sains.
Literasi Sains dan Tantangan "Backfire Effect"
Sayangnya, di tengah kemudahan akses data, kita masih sering melihat penolakan terhadap fakta ilmiah, terutama dalam penentuan awal bulan Hijriah. Masih banyak pihak yang lebih memilih percaya pada "kesaksian mata" yang sering kali keliru atau terdistorsi oleh ilusi optik, daripada mempercayai perhitungan yang sudah teruji ribuan kali.
Dalam psikologi komunikasi, kita mengenal Backfire Effect. Seringkali, ketika seseorang yang merasa memiliki otoritas (baik karena gelar atau senioritas) dikonfrontasi dengan data yang membuktikan pendapatnya salah, mereka justru semakin fanatik membela kekeliruannya. Data ilmiah dianggap sebagai serangan pribadi, dan koreksi dianggap sebagai tindakan "memaksakan kehendak".
Padahal, sebagai masyarakat akademis dan religius, kita seharusnya memiliki kerendahan hati intelektual. Jika data menunjukkan bahwa Hilal mustahil terlihat pada hari ke-29 karena posisinya di bawah ufuk—seperti yang sering saya suarakan—maka seharusnya kita menerima itu sebagai sebuah hukum alam yang pasti. Memaksakan penglihatan pada objek yang secara fisik belum ada adalah sebuah pengingkaran terhadap nalar yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Pengamatan Sabit Jirus di langit Nanggalo pagi ini adalah pengingat bahwa alam semesta bicara dalam bahasa matematika. Bulan adalah jam raksasa bagi umat manusia, namun kita harus tahu cara membacanya. Kita harus bisa membedakan mana "teriakan" Hilal di ufuk Barat yang menandai awal, dan mana keheningan Sabit Jirus di ufuk Timur yang menandai akhir.
Secara etimologi, literatur klasik seperti Lisan al-Arab karya Ibn Manzur hingga referensi akademik internasional Encyclopedia of Islam mencatat bahwa kata 'Hilal' berakar dari aktivitas Ihlal, yang berarti mengeraskan suara atau berteriak. Ini adalah warisan sejarah di mana pengamatan bulan baru adalah momen krusial yang menuntut kejujuran saksi untuk berteriak memberi tahu khalayak bahwa 'bayi' bulan telah nampak.
Sudah saatnya kita berhenti mempertentangkan antara agama dan sains. Agama memberikan kita perintah untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran Tuhan di langit, dan sains memberikan kita "kacamata" untuk melihatnya dengan jernih. Di hadapan hukum alam, data adalah hakim tertinggi. Gelar hanyalah atribut, sementara kebenaran—baik di layar ponsel maupun di langit fajar—adalah tujuan akhir yang harus kita junjung tinggi.
Penulis: Prof. Mas Mera (Dosen FT UNAND)

