Padang (UNAND) – ӰԭӰ (UNAND) menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia melalui penguatan riset, kolaborasi lintas perguruan tinggi.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kunjungan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, ke UNAND yang turut membahas penguatan riset kesehatan bersama Fakultas Kedokteran UNAND, RS UNAND, serta sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi.

Rektor Efa Yonnedi menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan menegaskan kesiapan UNAND untuk mendukung agenda strategis pemerintah, khususnya di bidang kesehatan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehormatan dan waktu yang diberikan untuk melihat langsung berbagai riset yang dilakukan peneliti UNAND bersama UNAIR dan perguruan tinggi lainnya. Ini adalah bentuk kolaborasi untuk tujuan yang sama, yakni memandirikan bangsa di bidang kesehatan,” ujar Rektor pada Selasa (12/5) di Kampus FK Jati.

Ia menegaskan bahwa isu kesehatan menjadi salah satu fokus utama pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sehingga UNAND ingin turut membersamai pemerintah dalam menyukseskan program-program strategis nasional tersebut.

Rektor juga menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang selama ini terus memberikan dukungan terhadap perkembangan ӰԭӰ.

Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan bahwa ӰԭӰ yang akan memasuki usia 70 tahun memiliki sejarah panjang dalam pendidikan kesehatan di Indonesia. Bahkan, Fakultas Kedokteran UNAND telah berdiri sejak 1955 di Bukittinggi.

“Semangat mendidik anak bangsa di bidang kesehatan telah lebih dahulu menyala sejak FK UNAND berdiri. Fakultas ini lahir dari tekad dan pengorbanan para pendahulu agar Sumatera memiliki tenaga dokter yang tangguh, berakar pada nilai lokal namun berwawasan global,” katanya.

Selama tujuh dekade, FK UNAND telah melahirkan ribuan dokter yang mengabdi di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Pada kesempatan tersebut, Rektor turut menyampaikan keprihatinan terhadap tingginya kasus TBC di Indonesia yang hingga kini masih menjadi persoalan serius nasional.

“TBC bukan penyakit baru, namun hingga hari ini Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Padahal penyakit ini sesungguhnya dapat dicegah dan disembuhkan jika ada kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Menurutnya, Sumatera Barat juga menghadapi tantangan besar akibat tingginya mobilitas penduduk, kepadatan permukiman di sejumlah wilayah, serta keterbatasan layanan kesehatan di daerah terpencil.

Karena itu, UNAND melalui Fakultas Kedokteran dan RS UNAND merasa terpanggil untuk hadir sebagai mitra nyata dalam penanggulangan TBC, tidak hanya sebagai institusi pendidikan tetapi juga pusat riset dan pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Wamenkes RI dr. Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa pemerintah tengah memperkuat langkah strategis nasional dalam penanganan TBC selama lima tahun ke depan.

“Kita mengobati TBC, tetapi TBC terus berjalan. Karena itu penanganannya harus benar-benar tuntas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada tahun 2020 terdapat sekitar 800 ribu kasus TBC di Indonesia, namun baru sekitar 400 ribu pasien yang mendapatkan pengobatan. Sementara pada tahun lalu capaian pengobatan telah meningkat hingga sekitar 80 persen. “Kalau ingin berhasil, pengobatan harus mencapai 100 persen,” tegasnya.

Khusus di Sumatera Barat, diperkirakan terdapat sekitar 25 ribu penderita TBC, namun kasus yang berhasil ditemukan baru sekitar 62 persen. Artinya, masih banyak penderita yang belum mendapatkan pengobatan sehingga penularan terus terjadi.

Dalam kunjungannya ke UNAND, Wamenkes juga meninjau pengembangan riset Dr. dr. Andani Eka Putra dan tim peneliti. Ia menyebut selama ini obat pencegahan TBC masih bergantung pada impor, namun kini terbuka peluang untuk diproduksi di dalam negeri melalui dukungan Kementerian Kesehatan dan Bio Farma.

“Kalau ini bisa diproduksi di dalam negeri, tentu menjadi langkah besar bagi kemandirian kesehatan Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mendorong kolaborasi riset yang lebih luas antar fakultas kedokteran dan rumah sakit di Indonesia.

“Mari gandeng FK lain dan rumah sakit lain untuk penelitian bersama. Orang-orang pintar di negeri ini harus bersama-sama memajukan Indonesia. Mari kuatkan kolaborasi untuk Indonesia sehat dan terus berkembang,” tutupnya.

Humas, Protokol dan Layanan Informasi Publik