Padang (UNAND) – Tim peneliti ÐÓ°ÉÔ°æÓ°Òô (UNAND) mengembangkan model bisnis Eco-Inclusive Enterprise sebagai upaya meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penyandang disabilitas di Indonesia. Model ini mengintegrasikan budaya kewirausahaan, inovasi, transformasi digital, pemasaran digital, dan prinsip keberlanjutan, khususnya bagi pelaku usaha produk fesyen ramah lingkungan (eco-print).
Pengembangan model tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya peran wirausahawan penyandang disabilitas dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif. Selain mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mereka juga menunjukkan semangat kewirausahaan yang tinggi di tengah berbagai keterbatasan.
Namun, pelaku usaha penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses terhadap teknologi, pembiayaan, infrastruktur, pasar, serta penerimaan sosial yang berdampak pada rendahnya daya saing dan keberlanjutan usaha. Di sisi lain, perkembangan ekonomi digital dan meningkatnya permintaan terhadap produk ramah lingkungan membuka peluang baru bagi UMKM penyandang disabilitas untuk berkembang secara lebih inovatif dan berkelanjutan.
Penelitian ini merupakan riset konsorsium yang melibatkan peneliti dari UNAND, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Halu Oleo. Riset tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program EQUITY.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan keberhasilan UMKM penyandang disabilitas. Pemanfaatan media sosial dan platform live commerce seperti TikTok Live terbukti mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan kepercayaan pelanggan, memperkuat hubungan dengan konsumen, serta membuka peluang peningkatan penjualan. Penelitian ini juga menemukan bahwa motivasi pribadi, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial yang inklusif menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan usaha para wirausahawan penyandang disabilitas.
Di sisi lain, para pelaku usaha masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan mobilitas, akses terhadap pembiayaan, kapasitas produksi, sumber daya manusia, serta fasilitas yang belum sepenuhnya ramah disabilitas. Penelitian juga menunjukkan bahwa budaya kewirausahaan mampu mendorong peningkatan kemampuan inovasi yang pada akhirnya memperkuat keunggulan kompetitif usaha. Selain itu, pemasaran digital memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan daya saing, sehingga transformasi digital menjadi strategi penting dalam membangun UMKM yang tangguh dan berkelanjutan.
Ketua tim peneliti, Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari, menegaskan bahwa pemberdayaan wirausahawan penyandang disabilitas memerlukan dukungan ekosistem yang lebih inklusif.
"Pemberdayaan wirausahawan penyandang disabilitas tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan. Mereka membutuhkan akses yang lebih luas terhadap teknologi digital, pembiayaan, pendampingan, dan pasar agar mampu mengembangkan usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan. Dengan dukungan ekosistem yang inklusif, penyandang disabilitas dapat menjadi pelaku ekonomi yang mandiri sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional," ujarnya pada Selasa (28/7).
Sebagai luaran penelitian, satu artikel ilmiah saat ini sedang dalam proses under review pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q1. Hasil riset juga telah dipresentasikan pada The 8th International Conference on Rural Development and Entrepreneurship (ICORE) 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology, and managed under the EQUITY Program, Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
Ìý Ìý
