Bukan orang Minang di group atau pada meeting meeting seminar untuk tinggal diam. Mereka terbiasa untuk mengkritik siapapun saja, kendatipun itu pimpinan daerah, tokoh adat dan presiden sekalipun. Pokoknya apa saja masalah yang didiskusikan akan ramai, saling sahut menyahut.
Masing masing akan mengungkap pemahaman mereka dalam masalah Sumatra Barat sendiri. Yang sangat heboh dibicarakan di daerah sendiri berkaitan dengan rendahnya kinerja ekonomi Sumatra Barat, masalah tidak majunya sektor Parwisata, memudarnya peranan ninik mamak, LGBT, serta masalah sosial yang kompleks.
Sementara pembahasan yang juga menarik berkaitan dengan program nasional MBG, masalah energy sampai politik luar negeri.
Jadi jangan khawatir, bahwa sikap egaliter masyarakat yang berdiskusi tumbuh dan berkembang jadi ajang tukar fikiran.
Banyak yang ikut atas dasar "commond sense" saja, alian asal berbicara, kelompok yang sering diistilahkan sebagai Kelompok "Tan Baro". Tidak sedikit juga ditemukan diskusi terkesan nilai akademiknya tinggi, lengkap dengan data dan argumentasi yang sulit dipatahkan.
Diskusi mirip rapat "mancik", sasarannya saling mengklaim "ambo labiah tau". Masing masing orang memperlihatkan eksistensi diri masing masing.
Gagasan dan pandangan itu juga terlihat jika dalam adanya forum pertemuan. Tidak jarang kesempatan untuk bertanya atau memberikan pandangan bisa habis waktu, dan inti masalah tidak terbahas sampai tuntas.
Tipologi orang Minang juga setelah selesai, jarang yang menindaklanjutinya dengan aksi aksi atau gerakan penerobos untuk atasi masalah.
Salah satu yang menonjol adalah membahas masalah ekonomi dan sosial kampung masing masing.
Biasa semangatnya tinggi dan berapi api, waktu pilang basamo, waktu rapat nagari, rapat pembahasan Rencana kerja, kemudian ketika mengarah pada aksi nyata untuk menumbuhkan aktifitas ekonomi, kebanyakan lebih banyak ambil posisi diam, sulit menemukan mereka yang konsisten antara ucapan, pemikiran dan tindakan. Unsur tindakan ini menjadi lemah bagi kita kebanyakan orang Minang.
Betapa ridak, diskusi tentang memajukan Semen Padang sejak saya sebagai mahasiswa ekonomi sudah tamat rasanya, ternyata tak ketemu inovasi baru bagaimana memajukan Semen Padang itu sendiri sampai sekarang. Banyak yang mengipas Sate orang lain, Sate sendiri tidak dikipas sampai dagingnya siap untuk disantap.
Demikian juga masalah pengembangan pelabuhan Teluk Bayur. Tidak terkecuali masalah infrastruktur jalan, macetnya di ruas Padang Luar Bukittinggi dan Koto Baru menuju Padang Panjang, sudah 5 Gubernur tak jelas langkah yang akan diambil. Sehingga yang namanya macet selama lebaran berulang semenjak tahun 1980 lagi sampai sekarang.
Tidak terkecuali masalah pertanian, peternakan dan kelautan, hampir kita saksikan saban hari, kemajuan pertanian kita masih pada level dari mencangkul ke traktor mini. Belum secepat Thailand kemajuan pertaniannya.
Lemahnya di Tindakan
Kenapa banyak hasil diskusi yang bernas jarang yang berujung pada aksi untuk menindaklanjutinya?
Besar dugaan pada berbagai faktor. Pertama kebanyakan orang Minang proses tumbuh dan berkembangnya mengarah pada teknokrat. Bagi kelompok ini biasa ilmunya maju, namun miskin dari segi pengalaman lapangan, bisa jadi minim terlibat dalam dunia nyata selama sekolah, biasa kelompok begini idenya bagus bagus, namun implementasinya tak jalan.
Kelompok ke dua tidak teknokrat, namun lebih matang karena pengalaman, dan perjuangan hidup. Kelompok ini tidaklah terlalu tinggi akademiknya, bahkan banyak juga yang sekolah rendah. Mereka lebih banyak dari kalangan pengusaha. Namun mereka mereka ini justru lebih menukik segala saran dan inisiativenya. Lebih nampak lekat tangannya.
Anehnya juga, kelompok teknokrat, baik yang aktif maupun yang pensiun cukup banyak perhatian ke kampung halaman, walau tidak sedikit pula yang menjadi urang Sumando Kacang Miang. Boro boro akan memberikan saran dan tindakan untuk kampung, justru memposisikan diri sebagai orang luar seolah olah benci dengan kampung halaman. Kita tidak tau penyebabnya kenapa ditemukan fenomena begini.
Demikian juga kalangan pengusaha, justru juga banyak yang membangun kampung tanpa pamrih, sebaliknya ogah membantu kampung. Bisa karena pengalaman buruk sering dikecwakan, atau pandangan mereka "beyond reached" ,Ìý adaptasi yang tidak mudah dengan kurenah orang kampung.
Dalam kaitan ini, maka upaya upaya yang sering kita dengar menautkan Ranah Rantau, tidaklah mudah. Karena begitu diajak membangun kampung, maka berakhir dengan gagasan. Tanpa tindakan.
Sebaiknya, melibatkan mereka yang teknokrat bersemangat, serta pengusaha yang mau berbuat untuk kampung dua perpaduan ini akan menjadi kelompok modal baru dalam memajukan kampung halaman. Selain mereka potensi, pengalaman dan tindakan akan menutup sebagian besar warga Minang yang gadang Ota namun minim tindakan.
Tidaklah perlu banyak jumlah orang orang yang perlu dirangkul, namun tentu dengan segala upaya, agar mereka yang kembali mau mengabdikan diri ke Kampung halaman merasa nyaman, dan merasa dihargai, mirip dengan postulasi Teori Abraham Maslow, orang ingin berbuat karena masih ingin dihargai.
Penulis: Prof. Elfindri, Dosen FEB UNAND
Ìý Ìý

