Dunia media sosial kita belakangan ini kembali gaduh oleh fenomena tahunan: perbedaan penetapan awal bulan Hijriah. Namun, kegaduhan kali ini sedikit berbeda. Di tengah kemudahan akses data astronomi melalui aplikasi seperti Stellarium hingga kriteria visibilitas MABIMS yang semakin presisi, perdebatan justru sering kali tidak berujung pada pencerahan. Yang terjadi malah benturan ego. Sering kali, argumen data dibalas dengan tameng gelar akademik atau otoritas keagamaan.

Sebagai seorang akademisi yang berkecimpung dalam dunia simulasi numerik dan logika teknik, saya melihat ada sebuah "kecelakaan komunikasi" yang masif. Kita sering kali gagal membedakan mana yang disebut dialog, mana diskusi, dan mana debat. Akibatnya, ketika sebuah pendapat ilmiah disanggah dengan data, sang pemilik pendapat merasa dirinya sedang dihina secara pribadi.

Tiga Kamar Komunikasi

Untuk memahami mengapa pencarian kebenaran sering kali buntu, kita harus membedah tiga metode komunikasi utama. Pertama adalah dialog. Dialog berfokus pada hubungan antarmanusia dan empati. Tujuannya adalah pemahaman bersama (understanding). Di sini, kita tidak harus setuju, yang penting kita "mengerti" posisi masing-masing.

Kedua adalah diskusi. Ini adalah ruang untuk memecahkan masalah. Sifatnya konstruktif dan terarah. Diskusi biasanya dilakukan oleh mereka yang berada di satu perahu untuk mencari solusi terbaik bagi kepentingan bersama.

Ketiga adalah debat. Inilah instrumen utama dalam dunia sains. Dalam ranah akademik—seperti Peer Review jurnal internasional atau sidang terbuka doktoral—debat adalah alat saring untuk menguji validitas argumen. Dalam debat, kita diperbolehkan, bahkan diwajibkan, untuk "menyerang" ide atau pendapat lawan bicara guna melihat apakah ia tahan uji atau runtuh. Di sini, fokusnya bukan pada hubungan manusia, melainkan pada kemenangan logika dan data. Satu pihak terbukti benar secara faktual, pihak lain harus gugur.

Masalah muncul ketika kita membawa mentalitas "dialog" ke dalam ruang yang seharusnya menjadi "debat ilmiah". Saat data astronomi disodorkan untuk membedah klaim yang keliru, pihak yang kalah argumen sering kali berlindung di balik kalimat: "Jangan memaksakan kehendak," atau yang lebih parah, "Hargailah gelar saya."

Fenomena "Backfire Effect" dan Arogansi Gelar

Dalam psikologi kognitif, ada fenomena yang disebut Backfire Effect. Ketika seseorang yang merasa memiliki otoritas tinggi—baik itu gelar Profesor maupun gelar agama—dikonfrontasi dengan bukti yang sangat kuat bahwa mereka salah, otak mereka sering kali meresponsnya sebagai "serangan fisik". Alih-alih menerima kebenaran baru, mereka justru akan semakin fanatik membela pendapat yang salah demi melindungi harga diri.

Di sinilah letak ironinya. Gelar akademik yang seharusnya menjadi bukti dari keterbukaan pikiran, justru terkadang menjadi "penjara" yang menghalangi seseorang untuk mengakui keterbatasan pengetahuannya di bidang lain. Seorang profesor di bidang hukum tidak otomatis menjadi ahli dalam mekanika benda langit. Namun, ketika arogansi gelar masuk ke dalam perdebatan hilal, data astronomi yang bersifat pasti sering kali dianggap sebagai "gangguan" terhadap wibawa.

Mekanika Langit dan Kepastian Data

Mari kita ambil contoh kasus yang terjadi pada akhir Ramadhan 1447 H (Maret 2026). Saat itu, foto bulan sabit pada malam Sabtu, 21 Maret, viral karena terlihat "terlalu tinggi". Netizen, bahkan sebagian tokoh, mulai meragukan keputusan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal pada hari Sabtu. Mereka merasa Sabtu malam itu seharusnya sudah tanggal 3 Syawal, bukan tanggal 2.

Secara teknis, data menunjukkan bahwa pada malam ke-29 Ramadhan (Kamis, 19 Maret), ketinggian bulan di sebagian besar wilayah Indonesia masih di bawah 2° (hanya 1° 50' di Pasaman Barat). Kriteria MABIMS mensyaratkan minimal 3°. Artinya, secara sains, hilal mustahil terlihat. Maka, pemerintah melakukan Istikmal (menggenapkan puasa menjadi 30 hari).

Karena ada tambahan satu hari penggenapan, bulan memiliki waktu 24 jam tambahan untuk "mendaki" langit. Secara alami, bulan bergerak naik sekitar 12° per hari. Maka sangat logis jika pada malam ke-2 Syawal (Sabtu), bulan berada di ketinggian sekitar 25°. Angka ini adalah kepastian matematis, bukan opini. Namun, bagi mereka yang tidak berpijak pada data dan hanya mengandalkan "perasaan" atau "gelar", angka 25° ini dianggap sebagai bukti kesalahan pemerintah.

Global dalam Sistem, Lokal dalam Implementasi

Argumen lain yang sering digunakan untuk memojokkan penggunaan hisab dan lokalitas hilal adalah isu "kesatuan umat". Mereka bertanya, mengapa kita tidak seragam saja dengan satu titik di dunia?

Di sini kita bisa belajar dari kalender Masehi yang sudah kita gunakan secara global. Apakah kalender Masehi tidak mengenal perbedaan? Mari kita lihat catatan sejarah: Tentara Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 menurut catatan Tokyo, namun menurut catatan di Washington D.C., peristiwa itu terjadi pada 14 Agustus 1945.

Peristiwa fisiknya satu, namun penanggalannya berbeda karena perbedaan zona waktu dan posisi geografis pengamat. Dunia tidak lantas menuduh salah satu pihak "salah tanggal". Jika pada kalender matahari kita bisa menerima perbedaan tanggal sebagai konsekuensi logis dari bulatnya bumi, mengapa pada kalender Hijriah kita masih sulit menerima bahwa penampakan hilal adalah fenomena lokal (matla') yang tidak harus seragam secara administratif di seluruh dunia?

Kalender Hijriah adalah sistem yang global secara prinsip, namun implementasinya tetap tunduk pada "jam alam" di wilayah masing-masing.

Menuju Kedewasaan Intelektual

Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad S.A,W memang seorang yang ummi (tidak membaca dan menulis), namun itu justru membuktikan mukjizat ajarannya: beliau memberikan indikator waktu yang bersifat universal namun tetap menuntut umatnya untuk terus belajar mengamati alam.

Ijtihad bukanlah pintu darurat untuk melegitimasi ketidaktahuan. Ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh saat sebuah perkara tidak memiliki nash (teks) yang tegas. Dalam hal penentuan waktu ibadah, nash-nya sudah sangat jelas: "Ia (hilal) adalah penunjuk waktu bagi manusia." Tugas kita di era modern ini bukan lagi berijtihad mencari-cari celah hukum baru, melainkan menggunakan sains untuk memastikan perintah nash tersebut terlaksana dengan presisi setinggi mungkin.

Sudah saatnya kita mengakhiri perdebatan yang hanya mengandalkan ego dan sentimen gelar. Di hadapan hukum alam (³§³Ü²Ô²Ô²¹³Ù³Ü±ô±ôÄå³ó), data adalah hakim tertinggi. Sebuah pendapat tidak menjadi benar hanya karena ia diucapkan oleh seseorang dengan gelar yang panjang. Begitupun sebaliknya, sebuah fakta tidak akan berubah menjadi salah hanya karena ia disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.

Mari kita jaga martabat gelar akademik kita dengan tetap bicara pada koridor kapasitas dan data. Malu kita pada peradaban lain, jika untuk menentukan satu tanggal saja, kita masih lebih sibuk bertarung ego daripada membaca data yang sudah tersaji nyata di depan mata.

"Di hadapan alam semesta, data adalah hakim tertinggi. Gelar hanyalah atribut, sementara kebenaran adalah tujuan akhir."

Penulis: Prof. Ir. Mas Mera, Ph. D (Guru Besar Jurusan Teknik Sipil ÐÓ°ÉÔ­°æÓ°Òô)